Ulasan Buku Penance Karya Minato Kanae

“Meski Tuhan mengampuni kalian, aku tidak.”

Lima belas tahun lalu, seorang gadis kecil bernama Emily dibunuh di sebuah desa yang tenang. Empat anak perempuan yang waktu itu sedang bermain bersama Emily tidak bisa memberikan kesaksian yang berarti padahal mereka berjumpa dengan laki-laki pembunuhnya. Akibatnya, penyelidikan pun mandek.

Ibu almarhumah Emily tidak terima, memanggil keempat anak tersebut, kemudian mengancam mereka, “Temukan pelakunya sebelum kasus kedaluwarsa, atau ganti rugu dengan cara yang bisa kuterima. Jika tidak, aku akan membalas dendam kepada kalian.”

ketika keempat anak yang menanggung beban besar di pundak mereka tumbuh dewasa, tragedi demi tragedi pun terjadi secara beruntun….

Jika ada istilah the power of emak-emak, mungkin buku ini cukup untuk mencerminkan istilah tersebut. Memang cukup banyak cerita atau fiksi jepang yang memiliki jenis cerita tentang kasih sayang seorang ibu yang begitu besar kepada anaknya sendiri, sampai saya bingung untuk memahaminya seperti apa.

Awalnya di beberapa halaman kita akan membaca surat beberapa anak tentang bagaimana mereka berteman dengan Emily. Saya sendiri merasa cara penulis membuat narasi menjadi surat sangatlah keren. Walaupun gaya penulisan seperti ini terkadang bikin bosen juga karena pengen cepet ngerti maksudnya apa, tapi buku ini cukup buat saya penasaran.

Kejutan dari beberapa akhir surat membuat saya ga ngerti, apakah saya akan bisa dengan tenang menulis surat seperti itu?

Beberapa karakter anak di dalam buku ini juga memiliki permasalahan dan cara menghadapi hidup yang berbeda pasca kasus. Saya pun agak bingung dengan ibunya Emily mengapa bisa ia memikirkan dirinya sendiri padahal temannya Emily juga hanyalah anak-anak.

Sebenarnya buku ini seperti sedang berjalan dan baru mau selesai masalahnya saat kita sedang membaca surat. Saat itu akhirnya Ibunya Emily sadar siapa pelakunya dan apa kesalahan yang telah ia perbuat sehingga menjadi beban bagi anak lainnya. Sehingga ia berusaha untuk menunjukkan kepada yang lain masing-masing surat atau percakapan.

Beberapa tokoh terasa samar di awal cerita. Seperti yang saya bilang memang penulis membuat kita kenal dengan teman Emily dan bahkan Emily secara perlahan lewat cerita surat, pidato, atau percakapan mereka. Jadi kita diajak meraba dan membayangkan bagaimana keadaan mereka saat kecil dan menuju dewasa dibawah bayang-bayang dan beban mengenai kasus pembunuhan yang belum terpecahkan.

Sampai akhirnya kita akan berakhir ke narasi milik Ibunya Emily yang sebenarnya adalah penyelesaian dari semua kasus dan hal yang seharusnya disadari lebih dahulu oleh Ibunya Emily sendiri.

Hal yang menarik dari cerita ini adalah mengenai desa tempat tinggal mereka yaitu desa yang memiliki udara paling bersih di jepang. Bagaimana penulis menekankan hal tersebut di awal cerita membuat saya merasa sedang menuju ke dalam cerita pedesaan yang asri dan jauh dari kata modernitas perkotaan. Begitu juga para warga disana yang mungkin memiliki pola pikir yang berbeda dari Ibunya Emily dan Emily, benar-benar digambarkan dengan baik lewat pesan ‘Desa yang memiliki udara paling bersih di Jepang.’

Bagi kalian yang suka dengan buku penulis Jepang, mungkin buku ini cocok buatmu. Karena buku ini bercerita tentang pembunuhan, perlu diketahui bahwa buku ini bergenre dewasa dan untuk usia di atas 17 tahun.

3.5/5

Judul buku: Penance
Penulis: Minato Kanae
Halaman: 355
Penerbit: Penerbit Haru

Leave a Comment